Posts | Comments

This is the pure translated version of manifesto of free culture.org in Indonesian Language (id) hope it can be usefull.

Misi dari Freeculture adalah untuk membangun sebuah skema bawah-atas, struktur partisipasi untuk sosial dan budaya, ketimbang atas-bawah, tertutup, dan struktur yang ekslusif. Melalui kekuatan demokrasi yang ada di internet dan teknologi digital, kita dapat menaruh alat untuk membuat dan mendistribusikan, berkomunikasi dan berkolaborasi, mengajarkan dan belajar dengan orang banyak - dan keaktifan, hubungan, informasi menyeluruh, ketidakadilan dan ketertutupan lambat laun akan hilang dari dunia.

Kami percaya bahwa budaya harusnya memiliki hubungan dua arah, partisipasi, dan tidak sepenuhnya konsumsi. kami tidak akan berdiam diri di ujung tabung media satu arah. Dengan internet dan perkembangan lainnya, adanya teknologi yang hadir dengan paradigma baru penemuan, satu sisi semua orang bisa menjadi artis, dan semua orang bisa sukses, tidak berdasarkan hubungan industri akan tetapi berdasarkan kemampuan.

kami menolak untuk menerima feodalisme digital dimana kami tidak memiliki secara utuh product yang kami beli, akan tetapi hanya menjamin penggunaan terbatas selama kami membayar sewa. kami harus menahan dan membuat versi ulang dari expansi radikal hak properti intelektual, yang dapat mengancam poin dimana mereka dapat memainkan banyak hak dan hak lain yang berhubungan dengan individu dan sosial.

Kebebasan untuk membangun apa yang ada di masa lampau sangat penting untuk kreativitas dan inovasi untuk berkembang. Kami akan mempromosikan budaya turunan dalam sebuah domain publik. Kami akan membuat, memberikan, mengadaptasi, dan mempromosikan content terbuka. kami akan mendengarkan musik bebas, melihat seni bebas, menonton film bebas, dan membaca buku bebas. semuanya sementara, kami akan berkontribusi, berdiskusi, menjelaskan, mengkritik, mengembangkan, mengimprov, mencampur, mengaduk, dan menambahkan bumbu lain ke dalam sup budaya bebas.

Kami akan menolong semua orang untuk mengerti nilai kultur kita yang sangat kaya, mempromosikan software bebas dan model open-source. kami akan menolak peraturan yang menekan dan dapat mengancam kebebasan dan membatasi inovasi. kami akan menentang pengawasan level perangkat keras (hardware) yang akan mencegah pengguna memiliki kontrol terhadap mesin mereka dan data mereka.

kami tidak membiarkan industri untuk mendistribusikan produknya dengan peraturan yang jahat. kami akan menjadi partisipan aktif dalam budaya bebas untuk hubungan dan produksi, membuatnya menjadi mungkin melalui internet dan teknologi digital, dan kami akan melawan segala kemungkinan yang dapat menjatuhkan baik dari korporat ataupun kontrol legislative. jika kita memperbolehkan bawah - atas, struktur partisipan dalam internet akan berputar ke dalam service tv kabel yang lebih baik - jika kita memperbolehkan paradigma pembuatan dan distribusi yang ada untuk berkembang dengan sendirinya - maka jendela kesempatan yang terbuka melalui internet akan tertutup, dan kita akan kehilangan sesuatu yang indah, revolusionis, dan susah didapat.

Masa depan di tangan kita; kita harus membangun sebuah gerakan budaya dan teknologi untuk mempertahankan keberagaman digital.

14 Comments to “The Manifesto of Free Culture (indonesian Version)”

  1. uinjakarta » Free Culture Manifesto in Indonesian Language Says:

    [...] Language. hope the vision of free culture can be more clear, and hope it will be useful. the manifesto of free culture in Indonesian language have been placed on my blog under tag internet and [...]

  2. pututik Says:

    pesan moralnya sangat bagus dan sayangnya indonesia masih terbentur dengan paradigma non opensource yang lebih mudah dipelajari. kayak saya yang dudul ini

    pututik’s last blog post..2009 Buick Enclave

  3. arman dhani Says:

    Adalah Frankfurt School yang ditunggangi oleh sosok-sosok seperti Adorno, Marcuse, Horkheimer, barangkali, yang sudah sekian lama mengungkap segala borok kehidupan di jaman seperti ini. Adorno, semisal, dengan angkuhnya
    menyebut gejala ini dalam The Culture Industry, sebagai gejala budaya industri. Budaya, dimana ideologinya adalah
    konformitas (keseragaman) yang mematikan pikiran untuk mendukung penerimaan umum terhadap aturan para pemilik
    modal. Industri budaya inilah yang membentuk perilaku, selera dan kecenderungan umum

    arman dhani’s last blog post..communist moon another music propaganda

  4. fajarseraya Says:

    salam kenal yaa….

  5. Pandi Says:

    @fajar

    sama sama :D

  6. AgusNaim Says:

    masih belum begitu mudheng… Bahasanya masih asli keluaran translator ya Om?

    AgusNaim’s last blog post..Pemilu 2009 Bagi Orang Bodoh

  7. adel Says:

    mampir nieh, ga lama2 yah, dah ngantuk..hehe

    salam kenal ja dulu.. thanks for coming..

  8. studikomputer Says:

    wah bahasanya kok tinggi banget yach…..bingung neh

  9. XEROXED » Free Culture and You Pt. 1: What Is Free Culture? What Is Permissive Culture? Says:

    [...] thanks Gumi, yr an inspiration. Also Pandu Nurdiansyah and this dude. and this girl for the image I used! Share and [...]

  10. Blog Ahmad Makki Says:

    Mengapa yang ingin diwujudkan budaya bawah-atas, bukan budaya sama rata yang membuat konfigurasi sosial menjadi datar? Saya percaya bahwa dengan semakin melebarnya wilayah yang rata, demokratis dan terbuka, maka akan semakin terdesak pula budaya feodalisme, instruktif dan monopolis, baik di dunia nyata maupun cyber. Tapi terima kasih atas manifestonya. Ini memberikan jaminan kepada kita bahwa di ruang cyber selalu ada pihak yang meawan titik pusat yang totalitarian.

    Blog Ahmad Makki’s last blog post..Masih dipusingkan dengan urusan pindah blog

  11. Bob Sadiyo Says:

    Bravo Freedom Fighters :)
    Aku sangat setujuh dengan apa yang diungkapkan dalam postingan ini,, sesuai dengan prinsip yang aku pegang “Tidak ada sesuatu di internet yang tidak bisa kita dapatkan secara gratis” buang jauh2 kapitalisme dalam internet dan dunia kita :))

    Bob Sadiyo’s last blog post..SepakboLa Lumpur ALa 17 Agustusan di Kampungku

  12. Drilling and mining in Indonesia Says:

    Saya sangat tertarik dengan pandangan dari pernyataan ini. Bagaimana cara untuk bergabung di dalamnya?

    Drilling and mining in Indonesia’s last blog post..Mineral Reserves spreads in the Islands of Indonesia

  13. Blogger Ciputat Says:

    Bravo free culture. Kami tunggu kabar selanjutnya.

    Blogger Ciputat’s last blog post..Menjaring traffic dengan situs social media

  14. Pandi Says:

    @ Drilling and Mining

    Jika ada seorang pelajar atau mahasiswa maka freeculture terbuka lebar untuk bergabung karena freeculture sebenarnya adalah sebuah asosiasi pelajar dan mahasiswa dalam scope international. and termakasih untuk supportnya mungkin appresiasi bisa dilakukan dengan menyebarkan kabar ini lebih luas lagi :D

Leave your comment

Try to Read the post first.. if your comment not connected I will delete it, and if that so, try it one more time. this is do follow comment field so try the best as you can ^_^

Pandi Nurdiansyah is | powered by WordPress. Design by Nofie Iman | Pandi Nurdiansyah.

>